Selasa, 22 Maret 2011

TUGAS APLIKOM 3

BAB II

MENGHITUNG VALIDITAS BUTIR

Method 1 (space saver) will be used for this analysist

  R E L I A B I L I T Y   A N A L Y S I S   -   S C A L E   (A L P H A)

                             Mean        Std Dev       Cases

  1.     BUTIR1            3.8667          .4342        30.0
  2.     BUTIR2            2.9333          .9444        30.0
  3.     BUTIR5            3.6000          .5632        30.0
  4.     BUTIR7            3.6333          .4901        30.0
  5.     BUTIR9            3.4000          .8944        30.0
  6.     BUTIR11          3.2667          .9072        30.0
  7.     BUTIR3            3.4333          .9714        30.0
  8.     BUTIR4            3.3667         1.1290       30.0
  9.     BUTIR6            3.1333         1.1059       30.0
 10.     BUTIR10         3.5333          .8193        30.0
 11.     BUTIR8           3.7667          .8584        30.0
 12.     BUTIR12         3.6000          .8550        30.0

                                                   N of
Statistics for       Mean        Variance    Std Dev  Variables
      SCALE       41.5333    29.4989     5.4313         12


Item-total Statistics

                        Scale          Scale         Corrected
                        Mean         Variance       Item-            Alpha
                        if Item        if Item           Total             if Item
                      Deleted        Deleted    Correlation        Deleted

BUTIR1        37.6667        27.9540        .2954           .7595
BUTIR2        38.6000        23.1448        .6011           .7222
BUTIR5        37.9333        25.2368        .6971           .7285
BUTIR7        37.9000        26.5759        .5309           .7440
BUTIR9        38.1333        24.8782        .4282           .7444
BUTIR11      38.2667        25.7885        .3134           .7580
BUTIR3        38.1000        23.8172        .4997           .7352
BUTIR4        38.1667        20.4195        .7649           .6924
BUTIR6        38.4000        24.8000        .3156           .7621
BUTIR10      38.0000        30.7586       -.2125           .8078
BUTIR8        37.7667        25.4954        .3769           .7503
BUTIR12      37.9333        24.9609        .4456           .7426

MENGHITUNG RELIABILITAS INTERNAL KONSISTENSI

Reliability Coefficients

N of Cases =     30.0                    N of Items = 12

Alpha =    .7639



 MENGHITUNG KORELASI ANTAR FAKTOR
  Correlations



F1
F2
TS
F1
Pearson Correlation
1
1.000(**)
1.000(**)

Sig. (2-tailed)
.
.
.

N
30
30
30
F2
Pearson Correlation
1.000(**)
1
1.000(**)

Sig. (2-tailed)
.
.
.

N
30
30
30
TS
Pearson Correlation
1.000(**)
1.000(**)
1

Sig. (2-tailed)
.
.
.

N
30
30
30
**  Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).


Sabtu, 12 Maret 2011

TUGAS APLIKOM 2

BAB I
MEMBUKA PROGRAM SPSS

MEMASUKAN DATA

MENGHAPUS DATA

MENYISIPKAN DATA

MEMBERI NAMA PADA VARIABEL
PERINTAH COMPUTE


MENYIMPAN FILE
Add caption










Minggu, 06 Maret 2011

STUDI KASUS PERILAAKU MEROKOK PADA REMAJA WANITA ( KAJIAN ATAS PERILAKU DI KAMPUS DAN DI CAFE)

Dewasa ini perilaku merokok tidak hanya dijumpai pada kaum laki-laki saja, pada wanitapun perilaku merokok kini sudah tidak dianggap hal yang tabu, bahkan seringkali diasosiasikan dengan kesan modern dan tidak kolot. Seiring dengan maraknya tuntutan persamaan hak (gender) jumlah perokok wanita saat ini juga bertambah banyak, pemandangan seperti ini sudah biasa ditemukan di kota-kota besar Indonesia, terutama Jakarta. Hal ini disebabkan karena banyaknya self image yang ingin dicapai dengan merokok, seperti mempunyai daya tarik, modern, dewasa, seksi, sukses, percaya diri dan lain sebagainya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui motivasi, faktor dan dampak dari perilaku merokok pada remaja wanita.
Tidak dapat dipungkiri bahwa merokok dapat menggangu kesehatan. Namun tidak ada yang memungkiri adanya dampak negative dari perilaku merokok bagi kehidupan manusia merupakan kegiatan yang fenomenal. Artinya meskipun sudah diketahui akibat negatif merokok tetapi jumlah perokok bukan semakin menurun tetapi semakin meningkat dan usia merokok semakin muda.
Perilaku merokok pada remaja, terutama pada remaja wanita saat ini sangat meningkat. Hampir 90% wanita muda Indonesia adalah perokok aktif. Faktor pendorong untuk mulai merokok amat beragam, baik berupa faktor dalam dirinya (personal), sosial – cultural, dan pengaruh kuat lingkungannya yang rata-rata adalah perokok aktif. Selain faktor diatas ada faktof lain, yaitu faktor perkembangan dan kepuasan psikologis, seperti mengurangi ketegangan dan stres.
Metode dalam penelitian ini adalah studi kasus melalui pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi pada subjek yang berjumlah tiga orang. Seluruh data dianalisis mengunakan metode pattern matching. Karakteristik subjek yang dicari adalah berusia remaja akhir, berjenis kelamin perempuan, bersedia untuk diteliti, telah melakukan perilaku merokok kurang lebih setahun, termasuk data perokok ringan, sedang atau berat, belum menikah dan berdomisili di Jakarta.
Berdasarkan wawancara dan observasi, ketiga subjek melakukan perilaku merokok murni karena ingin diterima oleh kelompoknya atau pergroupnya. Tahap terjadinya perlaku merokok pada remaja wanita, biasanya bermula dari seseorang mendapatkan gambaran yang menyenangakan mengenai merokok dengan cara mendengar, melihat atau dari hasil bacaan. Hal ini menimbulkan minaat untuk merokok yang akhirnya mencapai tahap apakah seseorang akan meneruskan ataukah tidak terhadap perilaku merokok.
Dari penelitian, yang memotivasi perilaku merokok pada remaja wanita adalah karena keingintahuan subjek terhadap rokok dank arena melihat teman-temannya terutama teman sebayanya yang melakukan perilaku merokok. Dampak yang dirasakan oleh ketiga subjek adalah timbul rasa ketagihan yang menyebabkan ketiga subjek tidak dapat menghentikan perilaku merokoknya sampai saat ini. Tanpa mempermasalahkan kesehatan akan dirinya sendiri.

created by (abstrak skripsi): Sekar Endah Hamumpuningtias

Sabtu, 05 Maret 2011

TUGAS APLIKOM 1

A. Judul Penelitian                                                                                                                          

Hubungan Antara Penyesuaian Diri dan Kecerdasan Emosional dengan Kecemasan Menjelang Masa Pensiun Pada Pegawai Pertamina Pusat Jakarta

Variabel-variabel dalam penelitian ini meliputi variabel bebas (idenpendent variable) dan variabel terikat (dependent variable). Variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variable terikat, sedangkan variable terikat merupakan variable yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Bedasarkan teori yang ada serta rumusan hipotesis penelitian maka yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah:
1. Variabel bebas: Penyesuaian Diri dan Kecerdasan Emosi
2. Variabel terikat: kecemasan

B. Rumus dan Funsi
1. Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kesahihan suatu tes. Suatu tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur. Tes memiliki validitas yang tinggi jika hasilnya sesuai dengan kriteria, dalam arti memiliki kesejajaran antara tes dan kriteria (Arikunto, 1999: 65).
Prinsif validitas adalah pengukuran atau pengamatan yang berarti prinsif keandalan instrumen dalam mengumpulkan data. Instrumen harus dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Jadi validitas lebih menekankan pada alat pengukuran atau pengamatan.
Untuk menguji validitas instrumen digunakan rumus korelasi product moment dengan angka kasar, yaitu:


Dengan rxy merupakan koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y, N merupakan jumlah siswa uji coba, X adalah skor-skor tiap butir soal untuk setiap individu atau siswa uji coba, dan Y adalah skor total tiap siswa uji coba.

Untuk menginterpretasikan tingkat validitas, maka koefisien kolerasi dikategorikan pada kriteria sebagai berikut: Kriteria Validitas Instrumen Tes
Nilai r Interpretasi
0,81 – 1,00 Sangat tinggi
0,61 – 0,80 Tinggi
0,41 – 0,60 Cukup
0,21 – 0,40 Rendah
0,00 – 0,20 Sangat rendah
(Suharsimi Arikunto, 1991 : 29)

Setelah harga koefisien validitas tiap butir soal diperoleh, perlu dilakukan uji signifikansi untuk mengukur keberartian koefisien korelasi berdasarkan distribusi kurva normal dengan menggunakan statistik uji-t dengan persamaan: t = rxydengan: t merupakan nilai hitung koefisien validitas, rxy adalah nilai koefisien korelasi tiap butir soal, dan N adalah jumlah siswa uji coba.

Kemudian hasil diatas dibandingkan dengan nilai t dari tabel pada taraf kepercayaan 95% dan derajat kebebasan (dk) = N–2. Jika thitung > ttabel maka koefisien validitas butir soal pada taraf signifikansi yang dipakai.
2. Relabilitas

Reliabilitas adalah kesamaan hasil pengukuran atau pengamatan bila fakta atau kenyataan hidup tadi diukur atau diamati berkali – kali dalam waktu yang berlainan. Alat dan cara mengukur atau mengamati sama – sama memegang peranan penting dalam waktu yang bersamaan. Dalam penelitian keperawatan, walaupun sudah ada beberapa pertanyaan ( kuisioner ) yang sudah distandarisasi baik nasional maupun internasional ,peneliti harus tetap menyeleksi instrumen yang dipilih dengan mempertimbangkan keadaan sosial budaya dari area penelitian ( Nursalam, 2003 : 108 ).
Reabilitas tes adalah tingkat keajegan (konsitensi) suatu tes, yakni sejauh mana suatu tes dapat dipercaya untuk menghasilkan skor yang ajeg, relatif tidak berubah walaupun diteskan pada situasi yang berbeda-beda. Reliabilitas suatu tes adalah taraf sampai dimana suatu tes mampu menunjukkan konsisten hasil pengukurannya yang diperlihatkan dalam taraf ketetapan dan ketelitian hasil. Reliabel tes berhubungan dengan ketetapan hasil tes.
Untuk menentukan reliabilitas tes, dapat digunakan metode belah dua. Tes dicobakan satu kali. Hasil tes kemudian dibelah dua menjadi belahan ganjil-genap. Kedua belahan ini dikorelasikan dan diperoleh reliabilitas separuh tes.
Untuk mengetahui reliabilitas seluruh tes digunakanl rumus Spearman-Brown sebagai berikut:


Dengan adalah koefisien korelasi antara skor-skor setiap belahan tes dan r11 adalah koefisien reliabilitas. Reliabilitas tes dapat juga ditentukan dengan menggunakan persamaan K-R 20 sebagai berikut.


dengan r11 merupakan reliabilitas tes, p adalah proporsi subjek yang menjawab item dengan benar, q adalah proporsi subjek yang menjawab item dengan salah; n adalah banyaknya item, dan s adalah standar deviasi.
Reabilitas tes bentuk uraian menggunakan rumus alpha, yaitu :



Rumus varians yang digunakan yaitu :



Adapun tolak ukur untuk menginterpretasikan derajat reliabilitas instrumen yang diperoleh sesuai dengan tabel berikut.


Interpretasi Reliabilitas
Koefisien Korelasi Kriteria reliabilitas
0,81 < r 1,00 sangat tinggi 0,61 < r 0,80 tinggi 0,41 < r 0,60 cukup 0,21 < r 0,40 rendah 0,00 < r 0,21 sangat rendah (Arikunto, 2003:75) Untuk mengetahui keberartian koefisien reliabilitas dilakukan dengan statistik uji-t, dengan persamaan berikut. Dengan t merupakan nilai hitung koefisien reliabilitas, r11 adalah nilai koefisien korelasi tiap butir soal, dan N merupakan jumlah siswa uji coba. Harga t yang dihasilkan dibandingkan dengan harga ttabel dengan dk = N– 2, taraf kepercayaan 95%. Jika thitung>ttabel maka instrumen baik dan dapat dipercaya.
3. Korelasi
Korelasi adalah salah satu teknik statistik yang digunakan untuk untuk mencari hubungan antara dua variabel atau lebih yang sifatnya kuantitatif. Misalkan kita mempunyai dua variabel x dan y kita ingin menguji apakah hubungannya berbanding lurus atau terbalik atau bahkan tidak mempunyai hubungan sama sekali . Korelasi dibagi menjadi dua
korelasi bivariat : merupakan uji korelasi antara dua variable
korelasi partial : bertujuan untuk menghitung koefisien korelasi antara dua variabel, akan tetapi dengan mengeluarkan variabel lainnya yang mungkin dianggap berpangaruh dengan kata lain disebut kontrol.

Keeratan hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya, biasa disebut dengan koofisien korelasi yang ditandai dengan ”r”. Koofisien korelasi ”r” merupakan taksiran dari korelasi populasi dengan kondisi sample normal (acak).
Tingkat keeratan hubungan (koofisien korelasi) bergerak dari 0-1. jika r mendekati 1 (misalnya 0.95) ini dapat dikatakan bahwa memiliki hubungan yang sangat erat. Sebaliknya, jika mendekati 0 (misalnya 0.10) dapat dikatakan mempunyai hubungan yang rendah.
Koofisien korelasi mempunyai harga -1 hingga +1. harga -1 menunjukan adanya hubungan yang sempurna bersifat terbalik antara kedua variabel. Sedangkan hubungan +1 menunjukan adanya hubungan sempurna positif.
4. REGRESI
Suatu cara untu mengetahui hubungan antara satu variabel dengan satu variable yang lain dimana dalam meramalkan dan kesalahan peramalan hubungan tersebut disebut regresi.

C. SKALA LIKERT
- Paling banyak digunakan untuk pengukuran perilaku
- Skala yang terdiri dari pernyataan dan disertai jawaban setuju-tidak setuju, sering-tidak pernah, cepat-lambat, baik-buruk dsb. (tergantung dari tujuan pengukuran).
- C. Bird menyebutnya Method of Sumated Ratings

1. SEBARAN FIKTIF
a. Skala Kecemasan
Skala kecemasan adalah skor yang diperoleh dari pengukuran dengan mengutamakan skala kecemasan menurut Nevid, Rathus, dan Greene (2003; 164) yang mengidenfikasikan dalam tiga hal, yaitu secara kognitif (dalam pikiran), behavioral (dalam tingkah laku), dan fisik.
2. BLUEPRINT
Selanjutnya karakteristik tersebut dibuat blue print skla kecemasan. Untuk lebih jelasnya dijabarkan dalam bentuk blue prin dibawah ini:
Tabel 1.a
No Faktor Indikator No Item Favoable/un Jumlah
1. kognitif a. Sulit berkonsentrasi 1,3 5,7 4
b. Ketidak mampuan mengatasi masalah 2,4 6,8 4
2. Behavioral
( tingkah laku) a. Perilaku menghindar 9,11 13,15 4
b. Perilaku tergoncang 10,12 14,16 4
3. Fisik a. Mengalami ganguan 17,19 21,23 4
b. Menunjukan kegelisahan 18,20 22,24 4
TOTAL 12 12 12

a. Item favorable: sangat sesuai (4), sesuai (3), tidak sesuai (2), sangat tidak sesuai (1)
b. Item unfavorable: sangat sesuai (1), sesuai (2), tidak sesuai (3), sangat tidak sesuai (4)