A. Judul Penelitian
Hubungan Antara Penyesuaian Diri dan Kecerdasan Emosional dengan Kecemasan Menjelang Masa Pensiun Pada Pegawai Pertamina Pusat Jakarta
Variabel-variabel dalam penelitian ini meliputi variabel bebas (idenpendent variable) dan variabel terikat (dependent variable). Variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variable terikat, sedangkan variable terikat merupakan variable yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Bedasarkan teori yang ada serta rumusan hipotesis penelitian maka yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah:
1. Variabel bebas: Penyesuaian Diri dan Kecerdasan Emosi
2. Variabel terikat: kecemasan
B. Rumus dan Funsi
1. Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kesahihan suatu tes. Suatu tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur. Tes memiliki validitas yang tinggi jika hasilnya sesuai dengan kriteria, dalam arti memiliki kesejajaran antara tes dan kriteria (Arikunto, 1999: 65).
Prinsif validitas adalah pengukuran atau pengamatan yang berarti prinsif keandalan instrumen dalam mengumpulkan data. Instrumen harus dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Jadi validitas lebih menekankan pada alat pengukuran atau pengamatan.
Untuk menguji validitas instrumen digunakan rumus korelasi product moment dengan angka kasar, yaitu:
Dengan rxy merupakan koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y, N merupakan jumlah siswa uji coba, X adalah skor-skor tiap butir soal untuk setiap individu atau siswa uji coba, dan Y adalah skor total tiap siswa uji coba.
Untuk menginterpretasikan tingkat validitas, maka koefisien kolerasi dikategorikan pada kriteria sebagai berikut: Kriteria Validitas Instrumen Tes
Nilai r Interpretasi
0,81 – 1,00 Sangat tinggi
0,61 – 0,80 Tinggi
0,41 – 0,60 Cukup
0,21 – 0,40 Rendah
0,00 – 0,20 Sangat rendah
(Suharsimi Arikunto, 1991 : 29)
Setelah harga koefisien validitas tiap butir soal diperoleh, perlu dilakukan uji signifikansi untuk mengukur keberartian koefisien korelasi berdasarkan distribusi kurva normal dengan menggunakan statistik uji-t dengan persamaan: t = rxydengan: t merupakan nilai hitung koefisien validitas, rxy adalah nilai koefisien korelasi tiap butir soal, dan N adalah jumlah siswa uji coba.
Kemudian hasil diatas dibandingkan dengan nilai t dari tabel pada taraf kepercayaan 95% dan derajat kebebasan (dk) = N–2. Jika thitung > ttabel maka koefisien validitas butir soal pada taraf signifikansi yang dipakai.
2. Relabilitas
Reliabilitas adalah kesamaan hasil pengukuran atau pengamatan bila fakta atau kenyataan hidup tadi diukur atau diamati berkali – kali dalam waktu yang berlainan. Alat dan cara mengukur atau mengamati sama – sama memegang peranan penting dalam waktu yang bersamaan. Dalam penelitian keperawatan, walaupun sudah ada beberapa pertanyaan ( kuisioner ) yang sudah distandarisasi baik nasional maupun internasional ,peneliti harus tetap menyeleksi instrumen yang dipilih dengan mempertimbangkan keadaan sosial budaya dari area penelitian ( Nursalam, 2003 : 108 ).
Reabilitas tes adalah tingkat keajegan (konsitensi) suatu tes, yakni sejauh mana suatu tes dapat dipercaya untuk menghasilkan skor yang ajeg, relatif tidak berubah walaupun diteskan pada situasi yang berbeda-beda. Reliabilitas suatu tes adalah taraf sampai dimana suatu tes mampu menunjukkan konsisten hasil pengukurannya yang diperlihatkan dalam taraf ketetapan dan ketelitian hasil. Reliabel tes berhubungan dengan ketetapan hasil tes.
Untuk menentukan reliabilitas tes, dapat digunakan metode belah dua. Tes dicobakan satu kali. Hasil tes kemudian dibelah dua menjadi belahan ganjil-genap. Kedua belahan ini dikorelasikan dan diperoleh reliabilitas separuh tes.
Untuk mengetahui reliabilitas seluruh tes digunakanl rumus Spearman-Brown sebagai berikut:
Dengan adalah koefisien korelasi antara skor-skor setiap belahan tes dan r11 adalah koefisien reliabilitas. Reliabilitas tes dapat juga ditentukan dengan menggunakan persamaan K-R 20 sebagai berikut.
dengan r11 merupakan reliabilitas tes, p adalah proporsi subjek yang menjawab item dengan benar, q adalah proporsi subjek yang menjawab item dengan salah; n adalah banyaknya item, dan s adalah standar deviasi.
Reabilitas tes bentuk uraian menggunakan rumus alpha, yaitu :
Rumus varians yang digunakan yaitu :
Adapun tolak ukur untuk menginterpretasikan derajat reliabilitas instrumen yang diperoleh sesuai dengan tabel berikut.
Interpretasi Reliabilitas
Koefisien Korelasi Kriteria reliabilitas
0,81 < r 1,00 sangat tinggi 0,61 < r 0,80 tinggi 0,41 < r 0,60 cukup 0,21 < r 0,40 rendah 0,00 < r 0,21 sangat rendah (Arikunto, 2003:75) Untuk mengetahui keberartian koefisien reliabilitas dilakukan dengan statistik uji-t, dengan persamaan berikut. Dengan t merupakan nilai hitung koefisien reliabilitas, r11 adalah nilai koefisien korelasi tiap butir soal, dan N merupakan jumlah siswa uji coba. Harga t yang dihasilkan dibandingkan dengan harga ttabel dengan dk = N– 2, taraf kepercayaan 95%. Jika thitung>ttabel maka instrumen baik dan dapat dipercaya.
3. Korelasi
Korelasi adalah salah satu teknik statistik yang digunakan untuk untuk mencari hubungan antara dua variabel atau lebih yang sifatnya kuantitatif. Misalkan kita mempunyai dua variabel x dan y kita ingin menguji apakah hubungannya berbanding lurus atau terbalik atau bahkan tidak mempunyai hubungan sama sekali . Korelasi dibagi menjadi dua
korelasi bivariat : merupakan uji korelasi antara dua variable
korelasi partial : bertujuan untuk menghitung koefisien korelasi antara dua variabel, akan tetapi dengan mengeluarkan variabel lainnya yang mungkin dianggap berpangaruh dengan kata lain disebut kontrol.
Keeratan hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya, biasa disebut dengan koofisien korelasi yang ditandai dengan ”r”. Koofisien korelasi ”r” merupakan taksiran dari korelasi populasi dengan kondisi sample normal (acak).
Tingkat keeratan hubungan (koofisien korelasi) bergerak dari 0-1. jika r mendekati 1 (misalnya 0.95) ini dapat dikatakan bahwa memiliki hubungan yang sangat erat. Sebaliknya, jika mendekati 0 (misalnya 0.10) dapat dikatakan mempunyai hubungan yang rendah.
Koofisien korelasi mempunyai harga -1 hingga +1. harga -1 menunjukan adanya hubungan yang sempurna bersifat terbalik antara kedua variabel. Sedangkan hubungan +1 menunjukan adanya hubungan sempurna positif.
4. REGRESI
Suatu cara untu mengetahui hubungan antara satu variabel dengan satu variable yang lain dimana dalam meramalkan dan kesalahan peramalan hubungan tersebut disebut regresi.
C. SKALA LIKERT
- Paling banyak digunakan untuk pengukuran perilaku
- Skala yang terdiri dari pernyataan dan disertai jawaban setuju-tidak setuju, sering-tidak pernah, cepat-lambat, baik-buruk dsb. (tergantung dari tujuan pengukuran).
- C. Bird menyebutnya Method of Sumated Ratings
1. SEBARAN FIKTIF
a. Skala Kecemasan
Skala kecemasan adalah skor yang diperoleh dari pengukuran dengan mengutamakan skala kecemasan menurut Nevid, Rathus, dan Greene (2003; 164) yang mengidenfikasikan dalam tiga hal, yaitu secara kognitif (dalam pikiran), behavioral (dalam tingkah laku), dan fisik.
2. BLUEPRINT
Selanjutnya karakteristik tersebut dibuat blue print skla kecemasan. Untuk lebih jelasnya dijabarkan dalam bentuk blue prin dibawah ini:
Tabel 1.a
No Faktor Indikator No Item Favoable/un Jumlah
1. kognitif a. Sulit berkonsentrasi 1,3 5,7 4
b. Ketidak mampuan mengatasi masalah 2,4 6,8 4
2. Behavioral
( tingkah laku) a. Perilaku menghindar 9,11 13,15 4
b. Perilaku tergoncang 10,12 14,16 4
3. Fisik a. Mengalami ganguan 17,19 21,23 4
b. Menunjukan kegelisahan 18,20 22,24 4
TOTAL 12 12 12
a. Item favorable: sangat sesuai (4), sesuai (3), tidak sesuai (2), sangat tidak sesuai (1)
b. Item unfavorable: sangat sesuai (1), sesuai (2), tidak sesuai (3), sangat tidak sesuai (4)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar